Minggu, 26 Juli 2015

Jejak Rindu Yang Membekas

Bagai sepasang sandal yang kehilangan satu sama lain. Tak ubahnya perasaan yang mengekang rindu di kala malam tiba. Tak akan pernah tau perasaan masing-masing. Termasuk perasaan rindu. Ya rasa rindu yang entah dari mana dan kapan dia berdiri disana sampai pemiliknya tak sadar jika deru air mata akan menghampirinya. Dan malam ini aku merasakannya...

Maaf sudah membuat diriku kacau karenamu. Sudah membuat diriku kesulitan untuk sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang itu mudah. Tapi tidak dengan diriku...

"Melupakanmu" Kini tugasku hanya satu kata itu. Tapi kenapa sangat berat rasanya? Tolong jelaskan padaku, Tuan. Apa kau tega membiarkanku bermain terlalu lama? Membiarkan perasaan ini entah sampai kapan. Tolong bantu aku, Tuan... Apa saja. Semampumu..

Oh ya aku hampir lupa. Bagaimana kamu bisa membantuku sedangkan kamu tidak mengetahuinya? Sepertinya aku lupa memberitahumu. Oh bukan! Aku tidak lupa! Sama sekali tidak! Aku sengaja menyembunyikannya darimu.

Aku sengaja menyembunyikan semuanya karena aku tidak mau memberatkanmu. Aku tidak mau mengganggumu. Kamu tau kalau aku tidak tega menyakiti perasaan orang lain. Terlebh jika aku membuat kamu sakit. Sungguh aku tak akan sanggup. Aku hanya ingin kamu menjalani hidup seperti biasa. Saat aku belum mengagumimu. Saat di mana hati ini belum terlalu dalam.

Aku sendiri tak pernah mengerti apa yang aku rasakan. Semalam saat aku sedang melamun. Tiba-tiba terasa ada sesuatu yang mendesak. Sesuatu yang ingin aku keluarkan. Terasa hangat. Dimata. Dan entah seketika terjatuh mengurai lembut di pipi. Aku menangis. Alasannya pun tak jelas. Tiba-tiba saja aku ingin melakukannya. Sesak rasanya. Dan aku baru menyadarinya bahwa aku sedang MERINDUKANMU....

Mungkin ini terlalu berlebih. Tetapi sungguh. Aku tak bisa menahannya. Aku pun tak mengerti kenapa ini bisa terulang. Saat aku menangis, aku langsung mengingat Allah. Aku takut. Sungguh. Aku takut jika Allah murka terhadapku karena perasaan ini. Aku takut jika perbuatanku ini malah menjauhkan kamu dari takdirku.

Tuan, apa yang harus aku lakukan selain menangis? Perasaan wanita memang terlalu lemah. Aku pun mengakuinya. Tapi bodohnya aku yang berpura-pura tegar. Dimana pun aku berusaha selalu membuat orang di sekitarku tertawa dengan tingkahku. Berusaha membuat mereka terhibur. Tapi aku sendiri bahkan tidak bisa melakukannya bahwa aku ini bahagia. Aku sulit menghibur diriku sendiri. Terlalu lemah. Apa sebesar ini dampaknya karena ulahmu, Tuan?

Ingin rasanya ada pria yang lebih baik dari kamu. Ingin rasanya ada seorang ikhwan yang bisa merebut hatiku darimu. Ingin rasanya semua kembali seperti 3 tahun yang lalu. Wanita yang belum mengetahui apa itu rasa sayang. Wanita yang masih lugu. Wanita yang belum memikirkan CINTA.

Berhentilah mengikutiku. Buat aku lupa akan namamu. Wajahmu. Senyummu. Kalaupun sulit, aku selalu mengingat Allah. Yang selalu mengingatkan aku dalam murka itu. Bismillah akan jauh lebih baik. Bismillah akan jauh lebih indah. "Aku akan mencoba menghapus jejak itu walaupun membekas"


By Created @cyndiialf

Minggu, 08 Februari 2015

Sajak Cinta Yang Baik Itu...

Cinta yang baik itu,
Tidak menjanjikan akan menghilangkan semua masalah
Pasti ada saja masalah
Tapi menjanjikan: melewatinya bersama-sama
Cinta yang baik itu,
Tidak menjanjikan akan abadi selama-lamanya
Karena waktu pasti menghabisinya
Tapi menjanjikan: kesetiaan dan komitmen dalam situasi apapun
Cinta yang baik itu,
Tidak kebal atas rasa sakit, sedih, bahkan kehilangan
Pasti ada masa-masa rumit dan sulit
Tapi menjanjikan: ketulusan berbagi, kesediaan memberikan maaf
Dan yang paling penting,
Cinta yang baik itu
Tidak merusak diri sendiri; mengungkung, menyiksa, apalagi hingga menginjak nilai-nilai agama
Melainkan membawa kebaikan, kebermanfaatan, serta menjadi jalan cinta yang lebih hakiki

*Tere Liye

Senin, 02 Februari 2015

Ruang Rindu

Di daun yang ikut mengalir lembut terbawa sungai ke ujung mata
Dan aku mulai takut terbawa cinta menghirup rindu yang sesakkan dada
Jalanku hampa dan ku sentuh dia, terasa hangat di dalam hati
Kupegang erat dan kuhalangi waktu, tak urung jua ku lihatnya pergi
Tak pernah kuragu dan selalu kuingat kerlingan matamu dan sentuhan hangat
Ku saat itu takut mencari makna, tumbuhkan rasa yang sesakkan dada
Kau datang dan pergi begitu saja, semua ku terima apa adanya
Mata terpejam dan hati menggumam, di ruang rindu kita bertemu

Jumat, 30 Januari 2015

Selamat Ulang Tahun, Tuan :)

Hari ini bukan hari biasa. Hari ini hari special buat, Tuan. Kenapa bisa disebut hari special? Karena hari ini adalah hari kelahiran kamu, Tuan. Hari dimana 19 tahun yang lalu kamu di lahirkan ke dunia ini dengan selamat. Hari dimana kamu diberi kesempatan oleh Allah untuk memulai hidup di dunia ini untuk bekal di akhirat nanti. Hari dimana kamu seperti berkah karena terlahir menjadi anak kedua dari orang tuamu dan berkesempatan untuk membawa mereka ke surga-Nya. Hari ini tanggal 30 Januari 2015 kamu berulang tahun, Tuan. Usiamu kini semakin berkurang, bukan semakin bertambah. Ilmumu semakin bertambah. Pahalamu semakin bertambah *insyaallah*.

Sudah kurang lebih 2.5 tahun aku mengagumimu. Selalu menyebut namamu dalam do’aku. Selalu menyimpan rasa ini dan tidak memberitahu kamu karena aku takut Allah murka atas perasaan ini. Aku takut jika Allah murka, kamu dijauhkan dalam jodohku nanti. Aku takut kehilanganmu, Tuan :’)

Selama 2.5 tahun, perasaan ini tersimpan rapi. Kamu tidak tau jika aku sembunyi-sembunyi melihat kamu dari kejauhan. Kamu tidak tau jika aku selalu tersenyum jika melihat kamu tersenyum. Kamu tidak tau jika aku selalu tertawa melihat tingkah konyolmu. Kamu tidak tau jika aku selalu rindu padamu. Kamu tidak tau jika aku selalu memikirkan kamu. Kamu tidak tau jika aku punya rasa yang lebih dari sekadar rasa cinta dan suka, tapi rasa sayang.

Tapi kini sudah berahir, Tuan. Kamu mungkin sudah mengetahui perasaan aku sebenarnya walaupun tidak mengetahui secara detailnya. Maafkan aku Tuan karena aku sudah lancang mengagumi kamu. Maafkan aku telah memiliki perasaan yang terlarang ini. Maafkan aku karena memiliki perasaan yang mungkin saja membuat Allah murka dan menjadi dosa. Sekali lagi MAAF, Tuan.

“Selamat Ulang Tahun yang ke-19”. Mungkin aku hanya bisa menggunakan kata itu dan aku sampaikan lewat do’a dan beberapa pesan. Selamat ulang tahun, Tuanku. Do’aku terhadapmu pasti yang terbaik. Gunakan sisa umurmu menjadi lebih berguna dan giatkan dengan selalu ber-istiqomah terhadap-Nya. Gunakan sisa hidupmu untuk perbanyak beribadah dan menggali pahala untuk bekal akhirat nanti. Semoga kamu menjadi pria soleh yang diidamkan wanita solehah dan kelak kamu mendapatkan jodoh yang solehah pula. Banyaklah perbaiki dan pantaskan diri dengan ta’at kepada-Nya.

Tahun ini juga kamu akan menghadapi UN, bukan? Disini aku selalu mendo’akan kamu, Tuan. Belajar dengan giat, berusaha semaksimal mungkin. Minta restu kepada orang tua dan kepada-Nya. Jangan pernah putus asa. Jangan pernah menyerah. Selalu optimis untuk kedepannya. Yakin kalau kamu bisa. Gunakan waktu kamu sebaik-baiknya untuk terus belajar dan belajar. Insyaallah hasil yang kamu dapat nanti akan memuaskan sesuai keinginan kamu, Tuan.

Pergunakan hari-harimu dengan baik, Tuan. Jangan kau gunakan untuk hal-hal yang tidak baik, karena kamu hidup di dunia ini hanya sekali seumur hidup. Bahkan aku menyimpulkan hidup di dunia ini hanya sebatas mimpi. Dan kehidupan yang nyata dan kekal lagi abadi di Surga-Nya *amin*

Mungkin hanya sampai disini pesan dan ucapan aku untukmu, Tuan. Berbahagialah kamu bersama pilihanmu, Tuan. Aku selalu mendo'akan yang terbaik untuk hubunganmu. Mungkin ada sedikit ke-iri-an. Tetapi pikiran negatif itu segera aku tepis demi melihat kamu bahagia. Karena bahagiamu, bahagiaku juga, Tuan :)


Sekali lagi “Selamat Ulang Tahun Yang ke-19 Tahun, Tuanku” ^_^

Rabu, 21 Januari 2015

Maaf... Anda Bukan Muhrim Saya

Maaf, anda bukan muhrim saya.”
Demikian kata-kata yang meluncur dari lisan seorang wanita ketika seorang laki-laki mengulurkan tangan kepadanya. Laki-laki itu pun menjadi bingung. Apa itu muhrim? Mungkin begitu pertanyaan yang bergayut di pikirannya.
Ada di antara kita yang pernah menghadapi peristiwa seperti ini. Namun ternyata, masih banyak yang keliru membedakan antara muhrim dengan mahram. Sebenarnya kata yang tepat untuk konteks kalimat wanita itu adalah mahram bukan muhrim.
Mahram adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya karena sebab nasab, persusuan dan pernikahan (Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam al-Mughni 6/555). Sedangkan muhrim adalah orang yang sedang melakukan ihram dalam haji atau umrah.
Masalah mahram merupakan salah satu masalah yang penting dalam syari’at Islam. Karena masalah ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan hubungan mu’amalah diantara kaum muslimin, terutama bagi muslimah. Allah Ta’ala telah menetapkan masalah ini sebagai bentuk kasih sayang-Nya juga sebagai wujud dari kesempurnaan agama-Nya yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam.

Pembagian Mahram
Syaikh ‘Abdul ‘Adzim bin Badawi Al-Khalafi (lihat Al-Wajiiz) menyatakan bahwa, seorang wanita haram dinikahi karena tiga sebab, yaitu karena nasab (keturunan), persusuan, dan mushaharah (pernikahan). Oleh karena itu, mahram wanita juga terbagi menjadi tiga macam yaitu mahram karena nasab atau keluarga, persusuan dan pernikahan.

Mahram Karena Nasab
Mahram karena nasab adalah mahram yang berasal dari hubungan darah atau hubungan keluarga.
Allah Ta’ala berfirman dalam surat An-Nur ayat 31, yang artinya, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudara lelaki mereka atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka.”
Para ulama’ tafsir menjelaskan, “Sesungguhnya lelaki yang merupakan mahram bagi wanita adalah yang disebutkan dalam ayat ini, adalah:
1.   Ayah
Termasuk dalam kategori bapak yang merupakan mahram bagi wanita adalah kakek, baik kakek dari bapak maupun dari ibu. Juga bapak-bapak mereka ke atas. Adapun bapak angkat, maka dia tidak termasuk mahram bagi wanita. Hal ini berdasarkan pada firman Allah Ta’ ala, yang artinya, “Dan Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu.” (Qs. Al-Ahzab: 4)
2.   Anak laki-laki
Termasuk dalam kategori anak laki-laki bagi wanita adalah cucu, baik cucu dari anak laki-laki maupun anak perempuan dan keturunan mereka. Adapun anak angkat, maka dia tidak termasuk mahram berdasarkan pada keterangan di atas.
3.   Saudara laki-laki, baik saudara laki-laki kandung maupun saudara sebapak ataupun seibu saja.
Saudara laki-laki tiri yang merupakan anak kandung dari bapak saja atau dari ibu saja termasuk dalam kategori mahram bagi wanita.
4.   Keponakan, baik keponakan dari saudara laki-laki maupun perempuan dan anak keturunan mereka.
Kedudukan keponakan dari saudara kandung maupun saudara tiri sama halnya dengan kedudukan anak dari keturunan sendiri. (Lihat Tafsir Qurthubi 12/232-233)
5.   Paman, baik paman dari bapak ataupun paman dari ibu.
Syaikh Abdul Karim Zaidan mengatakan dalam Al-Mufashal Fi Ahkamil Mar’ah (3/159), “Tidak disebutkan bahwa paman termasuk mahram dalam ayat ini (QS. An-Nur: 31) karena kedudukan paman sama seperti kedudukan kedua orang tua, bahkan kadang-kadang paman juga disebut sebagai bapak.
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu Ibrahim, Ismail dan Ishaq.” (Qs. Al-Baqarah: 133)
Sedangkan Isma’il adalah paman dari putra-putra Ya’qub. Dan bahwasanya paman termasuk mahram adalah pendapat jumhur ulama’.

Mahram Karena Ar-Radha’
Ar-radha’ah atau persusuan adalah masuknya air susu seorang wanita kepada anak kecil dengan syarat-syarat tertentu (al-Mufashol Fi Ahkamin Nisa’ 6/235).
Sedangkan persusuan yang menjadikan seseorang menjadi mahram adalah sebanyak lima kali persusuan, berdasar pada hadits dari `Aisyah radhiyallahu `anha, beliau berkata, “Termasuk yang di turunkan dalam Al Qur’an bahwa sepuluh kali persusuan dapat mengharamkan (pernikahan) kemudian dihapus dengan lima kali persusuan.” (HR. Muslim 2/1075/1452)
Ini adalah pendapat yang rajih di antara seluruh pendapat para ulama’ (Lihat Nailul Authar 6/749 dan Raudhah Nadiyah 2/175).
Syaikh Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa terdapat dua syarat yang harus dipenuhi sebagai tanda berlakunya mahram ar-radha’ (persusuan) ini, yaitu:
Telah terjadinya proses penyusuan selama lima kali.
Penyusuan terjadi selama masa bayi menyusui yaitu dua tahun sejak kelahirannya. (Lihat Durus wa Fatawal Haramul Makki Syaikh Utsaimin, juz 3 hal. 20)
Hubungan mahram yang berasal dari persusuan telah disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya tentang wanita-wanita yang haram untuk dinikahi, yang artinya, “Juga ibu-ibu yang menyusui kalian serta saudara-saudara kalian dari persusuan.” (Qs. An-Nisa': 23)
Dan disebutkan juga oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu `anhu, ia berkata, “Diharamkan dari persusuan apa-apa yang diharamkan dari nasab.” (HR. Bukhari 3/222/ 2645 dan Muslim 2/1068/ 1447)
Dari penjelasan di atas, maka dapat diketahui bahwa mahram bagi wanita dari sebab persusuan adalah seperti mahram dari nasab, yaitu:
1.   Bapak persusuan (suami ibu susu).
Termasuk mahram juga kakek persusuan yaitu bapak dari bapak atau ibu persusuan, juga bapak-bapak mereka ke atas. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Sesungguhnya Aflah saudara laki-laki Abi Qu’ais meminta izin untuk menemuiku setelah turun ayat hijab, maka saya berkata, “Demi Allah, saya tidak akan memberi izin kepadamu sebelum saya minta izin kepada Rasulullah, karena yang menyusuiku bukan saudara Abi Qu’ais, akan tetapi yang menyusuiku adalah istri Abi Qu’ais. Maka tatkala Rasulullah datang, saya berkata,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya lelaki tersebut bukanlah yang menyusuiku, akan tetapi yang menyusuiku adalah saudara istrinya. Maka Rasulullah bersabda, “Izinkan baginya, karena dia adalah pamanmu.” (HR. Bukhari: 4796 dan Muslim: 1445)
2.   Anak laki-laki dari ibu susu.
Termasuk anak susu adalah cucu dari anak susu baik laki-laki maupun perempuan. Juga anak keturunan mereka.
3.   Saudara laki-laki sepersusuan.
Baik dia saudara susu kandung, sebapak maupun cuma seibu.
4.   Keponakan persusuan (anak saudara persusuan).
Baik anak saudara persusuan laki-laki maupun perempuan, juga keturunan mereka.
5.   Paman persusuan (saudara laki-laki bapak atau ibu susu).
(Lihat al-Mufashol 3/160)

Mahrom Karena Mushaharah
Mushaharah berasal dari kata ash-Shihr. Imam Ibnu Atsir rahimahullah berkata, “Shihr adalah mahram karena pernikahan” (An Nihayah 3/63).
Contohnya, mahram yang disebabkan oleh mushaharah bagi ibu tiri adalah anak suaminya dari istri yang lain (anak tirinya) dan mahram mushaharah bagi menantu perempuan adalah bapak suaminya (bapak mertua), sedangkan bagi ibu istri (ibu mertua) adalah suami putrinya (menantu laki-laki) [Al Mufashshol 3/162].
Hubungan mahram yang berasal dari pernikahan ini disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, yang artinya, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka,atau ayah mereka,atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka.” (Qs. An-Nur: 31)
“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu (ibu tiri).” (Qs. An-Nisa': 22)
“Diharamkan atas kamu (mengawini) … ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, dan istri-istri anak kandungmu (menantu).” (Qs. An-Nisa': 23)
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat diketahui bahwa orang-orang yang haram dinikahi selama-lamanya karena sebab mushaharah adalah:
1.   Ayah mertua (ayah suami)
Mencakup ayah suami atau bapak dari ayah dan ibu suami juga bapak-bapak mereka keatas (Lihat Tafsir As-Sa’di hal: 515, Tafsir Fathul Qodir 4/24 dan Tafsir Qurthubi 12/154).
2.   Anak tiri (anak suami dari istri lain)
Termasuk anak tiri adalah cucu tiri baik cucu dari anak tiri laki-laki maupun perempuan, begitu juga keturunan mereka (Lihat Tafsir Qurthubi 12/154 dan 5/75, Tafsir Fathul Qodir 4/24, dan Tafsir Ibnu Katsir 1/413).
3.   Ayah tiri (suami ibu tapi bukan bapak kandungnya)
Haramnya pernikahan dengan ayah tiri ini berlaku ketika ibunya telah jima’ dengan ayah tirinya sebelum bercerai. Namun, jika belum terjadi jima’, maka diperbolehkan.
Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seluruh wanita yang pernah dinikahi oleh bapak maupun anakmu, maka dia haram bagimu.” (Tafsir Ath- Thobari 3/318)
4.   Menantu laki-Laki (suami putri kandung)
Dan kemahraman ini terjadi sekedar putrinya di akadkan kepada suaminya (Tafsir Ibnu Katsir 1/417).

Ditulis ulang dari artikel Mahrom bagi Wanita (Ahmad Sabiq bin `Abdul Lathif), majalah Al Furqon, Edisi 3/ II, Dzulqa’idah 1423 H, hal 29-31 dengan beberapa tambahan dari penulis.
Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad dan Ummu Asma’ Dewi Anggun Puspita Sari



Ada beberapa editan dari saya. Ini hanya sekedar berbagi ilmu dan pengetahuan yang mungkin belum anda ketahui lebih dalam. Semoga bisa anda ambil maknanya dan saling berbagi kepada yang belum mengetahuinya. Semoga bermanfaat (^_^) ~Cyndi Alfiani~



Senin, 19 Januari 2015

Cintai Dia Dalam Diam

Cintai Dia Dalam Diam



Jika muslimah jatuh cinta, ia memendamnya dalam diam, malu dengan hijabnya, terlebih ia malu dengan Rabbnya. Jika jatuh cinta, ia berusaha untuk menghapus rasanya, tetaplah Allah satu dalam hatinya.

Jika ia jatuh cinta, dipendamnya dalam hati yang terdalam, orang lain tak dibiarkan tahu, apalagi si dia yang dituju. Cinta tak akan ia biarkan bersemi, semakin mengingat si dia, semakin sering menyebut asma Allah. Semakin sering berharap akan kehadirannya, semakin keras ia berusaha melupakan. Muslimah tak akan biarkan rindu itu bergelora, justru kekhawatirannya semakin muncul, ia takut Allah murka padanya. Ia hindari pertemuan, ia menghindari interaksi, menjaga suaranya, menahan pandangannya, mesti hatinya bergetar hebat. Saat kita merasa dialah orang yang tepat, bukan hanya karena fisiknya, tapi karena keimanan, bawalah namanya dalam doa kita.

Saat ia jatuh cinta, ia jatuh pada orang yang benar, yang nantinya akan membimbingnya, tidak karena cinta ia merendahkan dirinya. Muslimah, muliakanlah dirimu, akan datang disaat yang tepat, berdoalah dia orang yang tepat, semoga waktunya semakin dekat. Orang yang kita cintai dalam diam, belumlah halal, dan belum tentu akan halal. Bersabarlah, janji Allah sudah ada pendamping untuk kita. Mungkin dia, mungkin juga bukan dia, janganlah terikat dengan sesuatu yang masih mungkin. Jangan habiskan waktumu untuk cinta manusia, kejarlah Allah, maka kebaikan-kebaikan akan datang kepada kita.

Jika kita mencintai Allah, maka rasa cinta terhadap apapun akan sirna. Itulah cinta sejati, cinta di jalan yang benar. Jangan takut, jika ia adalah yang terbaik, Allah akan dekatkan, jika bukan yang terbaik, Allah akan selesaikan dengan caranya. Pria, jika kau belum mampu menikahinya, jangan kau nodai kesucian cinta. Menjadikan cinta yang awalnya indah, menjadi akhir yang penuh masalah. Pria, janganlah kau janjikan waktu pernikahan, jika masih setahun lagi, masih tiga tahun lagi. Janjimu sebelum menjadi suami seringnya palsu. Saat kau merasa mampu, datangi dan lamar dia.

fanart dari fatharrani yasmin shafiya sanni (^_^)
jazakillahu khairan



Sumber : Nyol-Nyol Comics

Minggu, 18 Januari 2015

Berhentilah Sebelum Terlambat

Selama ini, tanpa kusadari, selalu ada orang yang sangat baik dan begitu memperhatikanku.  Dia begitu baik padaku. Entah sudah berapa lama waktu yang dia habiskan untukku. Untuk segalanya. Untuk waktu perhatiannya yang tanpa kusadari. Untuk segala emosi hati yang tak pernah kalut saat aku mengenyahkannya. Untuk usaha perjuangan waktu demi bertemu denganku walau rumah kami berdekatan. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya selama ini.

Tak menyangka jika pada akhirnya aku mengetahui bahwa kau memiliki perasaan lebih dari apa yang seharusnya. Aku tak berharap lebih. Justru aku hanya menganggap hubungan kita hanya sekadar teman berbagi. Memang kau belum mengatakannya langsung. Tetapi aku bisa merasakan semua rasa perhatianmu padaku. Aku bisa merasakan bahwa itu bukan hanya sekadar pertanyaan melainkan itu adalah ungkapan rasa “perhatian”.

Aku tidak ingin membuatmu jatuh terlalu jauh dalam lingkaran ini. Aku tak mengerti mengapa kau bisa jatuh. Jatuh ke dalam orang yang salah seperti... AKU. Mungkin aku cukup senang dan bahagia jika kau telah mengetahui segala kekuranganku dan bisa menerima semua yang sudah terungkap. Selama ini aku berpikir bahwa tidak ada pria yang bisa menerima segala kekuranganku. Dan setelah aku bertemu kau.. ternyata aku... SALAH.

Kau bisa menerima semuanya. Bahkan melebihi keinginanku. Kau bisa membuatku nyaman, tersenyum bahkan memikirkanmu. Maaf jika beberapa kali aku menghiraukan segala perhatianmu dengan membalas sms dengan singkat. Itu aku lakukan karena aku tak ingin membuat kau jatuh terlalu jauh ke dalam cinta ini. Aku berusaha untuk menghentikannya sedini mungkin. Aku takut membuatmu kecewa. Aku takut tak bisa memberikan apa yang telah kau beri padaku. Aku takut tidak bisa membalas apapun yang telah kau lakukan terhadapku.

Usiaku dan usiamu berbeda. Kau lebih muda setahun dariku. Tetapi cara berpikirmu mungkin diatasku. Kau bisa mengontrol dan menenangkan suasana. Walau terkadang bisa kapan saja kau bersikap seperti anak kecil. Ilmumu pun mungkin di atasku dengan status kau anak pesantren. Ilmu agamamu jauh di atasku. Itulah yang membuatku mengagumimu bukan... menyukaimu.

Berhentilah bersikap baik seperti itu. Karena setiap kau melakukan hal yang baik untukku, aku selalu ingin mengeluarkan air mata ini. Aku bingung apa aku harus senang karena ada yang memperhatikanku? atau aku harus sedih karena kau memperhatikan wanita yang salah? Wanita yang tidak menyukaimu? Ayolah bangun dari mimpi burukmu. Aku hanya akan menjadi mimpi burukmu yang kau sangka adalah mimpi indahmu. Aku bagaikan  duri di tangkai bunga mawar. Aku takut menjadi duri tajam yang melukaimu, walau kau melihatnya itu adalah sebuah keindahan. Sesuatu yang sangat indah akan kamu rasakan ketika ada seseorang yang sangat mencintaimu.

Aku mohon, berhentilah bersikap seperti itu. Masih banyak wanita yang mungkin menyukaimu. Simpan hatimu di relung terdalam dan tunggulah seseorang yang terbaik untuk mengambilnyaAku harap pesan ini bisa kau baca walau aku tahu kau tak mungkin membaca pesan ini..